Cerita biasa
Ketika kamu ketemu sama isi blog ini, saya hanya ingin bilang kalau cerita ini hanya cerita biasa. Bukan cerita indah dan bagus untuk dinikmati. Hanya sekedar mengungkapkan apa yang ada di dalam hati.
Dalam hidup ini yang namanya kegagalan itu pernah menghampiri. Saya bukan orang yang kuat untuk mengatasi itu semua, namun tidak bisa dipungkiri bahwa Tuhan benar-benar memberi saya orang-orang terbaik di dunia ini. Untuk apa? Ya, untuk menolong saya.
Meninggalkan universitas yang saya impikan bukan sesuatu yang mudah, seperti saya meninggalkan farmasi. Kembali lagi seseorang mengingatkan saya, “betapa bangga bila bisa menyelesaikan kuliah dari universitas ‘itu’, ungkapnya tegas.” Well, saya tidak bisa membantah hal itu. Tetapi jika saya ingin jujur, saya ingin katakan bahwa “saya benci pernyataan orang tersebut.” Masing-masing orang memiliki keputusan besar yang suatu waktu akan menjadi pilihan berat dalam hidupnya. Kadang kita pun harus melihat sejauh mana passion kita akan dunia ini. Lulus dari universitas itu dengan sesuatu yang bukan passion saya itu bukan minat saya. Patut saya akui kalau farmasi bukan sesuatu yang mudah, namun untuk orang-orang yang tidka memiliki passion seperti saya, itu hanya akan menjadi bumerang dalam hidup. Cukup!
Memilih bukan kata kerja yang hanya sekejap bisa dilakukan. Memilih dan memutuskan semua yang saya hadapi, ingin rasanya saya menolak. Saya jauh dari teman-teman saya. Saya sendiri di sini. Saya merasa sangat kesepian, itu bisa jadi jujur dari hati saya. Bukan hal mudah, menjalani setiap aktifitas seorang diri. Memenuhi semuanya dengan kaki dan tangan saya sendiri. Kalian pernah mendengar mandiri? Nah, hal itulah yang sedang saya pelajari di ruangan berukuran panjang empat meter dan lebar 2,5 meter.
Saya bisa menjadi seseorang yang berjalan tanpa tujuan suatu waktu, hanya ketika saya tersadar saya tahu apa yang menjadi tujuan saya.Terkadang ingin memanggil mereka yang adalah sahabat, namun waktu jua yang tidak memperbolehkan. Hanya berharap mereka mau datang menghampiri, tapi tak kunjung. Inginnya saya yang bepergian ke tempat merek.
Well, saya mandiri! Saya dengan sepenuh hati melakukan itu. Sulit rasanya hidup jauh dari orang tua. Sulit rasanya, ketika kamu capek dan harus mengurus makanmu. Ingin berteriak saat tak ada orang di samping. Saya seperti orang satu-satunya yang ada di planet ini. Suara bising kendaraan terdengar oleh saya, tapi semuanya hanya suara bukan wujud.
Namun, apakah ketika saya mengeluh seperti ini saya benar? Tidak! Tidak ingin mencari pembenaran, hanya ingin mengungkapkan sesuatu yang tidak bertujuan ini.
Seorang mahasisiwi Jurnalistik tingkat dua di sebuah universitas swasta yang menjadi kebanggan saat ini. Mahasiswi yang mulai deg-degan memikirkan kuliah kerja lapangan yang semakin di depan mata. Mahasiswi yang terkadang bisa cengeng kalau rindu pada orang tuanya. Mahasiswi yang tidak lagi mudah untuk menjadi seseorang yang ingin bermalas-malasan.
Saya tidak sendiri hari ini. Saya punya enam ekor ikan yang baru saja menjadi anggota keluarga di hunian ini. Mereka adalah Mimo dan Jero. Keluarga kecil yang bisa saya ajak bicara kapan pun. Walau sebenarnya mereka bukan komunikan atau komunikator yang baik. Setidaknya ketika melihat mereka berenang kegirangan dan terdengar suara kibasan sirip mereka, saya tidak sendiri.
Cerita yang tidak layak dibaca ini, hanya sebuah ungkapan dari seorang anak rantau yang optimis akan hidupnya. Mengapa? Karena saya punya Tuhan yang besar.
Ya Tuhan, ampuni saya akan segala dosa saya
Ketika saya meninggalkan Engkau di belakang, saya mohon ampuni saya
Hanya Engkau tempat saya bergantung
Di atas segalanya kemuliaan dan hormat hanya bagiMu.
Kalau kamu telah selesai membaca atau hanya sekedar melihat, saya hanya bisa bilang “selamat membaca”
LO GAK BEGO KOK BACA TEXT GW!!! :D


